Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2017

Memupuk dan Menumbuhkan Diri dalam Dakwah

“Kau tahu, betapa diri ini terasingkan dengan lingkungan yang ku temukan. Tapi baru kali ini ada keterpaksaan yang menyenangkan, ada pahit yang menjadi lezat, ada guntur yang menghadiahkan pelangi.” Di semester satu aku bergabung di organisasi ekstra. Mungkin jika dikatakan aktif, diriku aktif. Namun, setelah semester dua yang mengharuskan aku tinggal di Asrama Putri (Aspi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta aku lebih sibuk dengan kegiatan asrama di setiap malam juga disibukkan dengan dunia kegalauan   karena sedang ‘beradaptasi’ dengan dunia hijrah. Saat semester awal, teman dekatku rutin setiap jum’at untuk mentoring. Setiap aku tanya hendak pergi ke mana, mereka selalu menjawab ‘mentoring’. Ada hal yang membuat hatiku perih mendengarnya. “Oh, mentoring.” Tidak jarang di Musholla akhwat   lantai dua FITK diramaikan dengan wanita-wanita berbusana rapi dengan asiknya berbincang-bincang. Terdapat   kedekatan yang amat dari mereka saat saling menatap wajah lawan bic...

Pergi

Aku tidak pernah menuntut orang-orang yang pergi dariku untuk kembali. Ada dua cara penerimaan dari kepergian; ikhlas dan tidak Apa contohnya kepergian yang ikhlas? Melepaskan dia yang merusak harga diri. Pergi untuk memperbaiki diri; entah sama-sama berusaha atau hanya disatu belah pihak saja. Apa contohnya kepergian yang tidak diikhlaskan? Ketika kepergian meninggalkan pertanggung jawaban. Tidak bisa menuntut untuk kembali; buktikan saja bahwa ada pesenyesalan karena meninggalkan. Hikmahnya, pada setiap pergi dan datangnya seseorang itu sudah Allah rencanakan. Baik yang ikhlas atau tidak. Pasti ada pelajaran di balik itu semua. Entah karena Allah menguji kesabaran kita, sejauh mana hamba-Nya tawakkal kepada Allah, atau Allah ingin melihat hamba-Nya bersyukur sebab apa yang Allah gariskan. Berhusnudzhonlah, menguatlah :')

"Uhibbuki Fillah"

Lantas, yang dikatakan "Mencintai karena Allah" itu seperti apa? Kapan kita akan memiliki itu? Apakah akan semudah itu percaya ketika seseorang datang dan  mengatakan, "Ana uhibbuki Fillah" ? Cinta Bukan cinta ketika alasannya bukan karena-Nya. Allah adalah pemilik cinta terbesar di jagat raya ini. Alam semesta beserta isinya, kita dan orang-orang yang ada di sekeliling yang meramaikan kehidupan, adalah bukti cinta Allah kepada makhluk-Nya; tanpa terkecuali. Lalu cinta bagi hamba itu seperti apa? Yaitu, yang memberikan ruh nan suci ke dalam hati-hati setiap insan sehingga menggerakkan diri mereka melakukan kemaslahatan; utuk dirinya, keluarganya, bahkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Tidak ada kefasikan (kerusakan) yang terjadi. Menentramkan, dan lebihnya adalah meningkatkan ketaatan. Ketika rasa itu datang, bersegeralah libatkan Allah. Jadikan Allah pengatur hatimu, "yaa mu qa llibal quluub tsabit qalbii 'alaa diinik wa thaa 'atik ."...

Keluarga Cemara, Keluarga ke Surga

    Banyak sekali untaian kisah yang menjadi cerita pada judul ini. Sebenarnya mereka itu siapa? Mereka adalah akhwat-akhwat tangguhku yang mewarnai perjalanan dakwah di LDK. Mereka adalah garda terdepan yang menjadi jawaban-jawaban atas permasalahan yang terjadi. Responsif dan cepat tanggap. Sebab merekalah, aku menjadi diri sendiri. Kami sering mengoreksi diri masing-masing dengan terbuka, dan tanpa perjanjian kami tidak pernah sakit hati ketika dikoreksi, karena kami yakin apa yang dibicarakan adalah untuk membangun diri dan kebaikan untuk ke depannya.             Kami memang berbeda divisi, tetapi jika satu divisi memiliki permasalahan kami semua turun tangan. Jangankan untuk meminta pertolongan, bahkan sebelum “tolongin dong” mereka sudah bertanya “apa yang harus aku bantu?” karena sejatinya LDK adalah kami, bukan dipisahkan oleh divisi-divisi.           ...

Virus Merah Jambu bagi Aktivis Dakwah

             Salah satu alasan kenapa di LDK sangat menjaga interaksi antara ikhwan dan akhwat adalah menghindari terjangkitnya Virus Merah Jambu (VMJ). Ada sebuah pengalaman, dalam satu lift sangat dihindari berduaan ikhwan dan akhwat. Hingga pada suatu hari, aku hendak ke lantai 7 FITK dari mushalla lantai 2. Ada ikhwan menunggu depan lift aku berdiri agak jauh. Saat pintu lift terbuka, ternyata di dalamnya kosong. Aku maju dengan keyakinan kalau si ikhwan akan mengalah, eh ternyata si ikhwan juga mengarah masuk ke dalam lift, yaudah aku mundur. Saat aku mundur si ihwan juga ikutan mundur, jadilah aku dan si ikhwan naik tangga karena liftnya sudah tertutup (hehe). Virus Merah Jambu itu menjadi penyakit dakwah, kenapa? Karena dengan terjangkitnya hati seorang penggiat dakwah dengan benih-benih ketertarikan pada lawan jenis akan melayukan semangat. Virus ini mampu mengotori niat yang awalnya baik menjadi belok. Pada awalnya aku berpikiran yan...