Bagai Buih di Lautan
Petang itu aku sedikit kecewa dengan diriku sendiri. Entah mengapa ada kekecewaan dalam hati terhadap bangsa ini. Aku berusaha sekuat hati untuk tidak menghardik dalam relungku. Bagaimana mungkin aku bisa putus harapan dengan tanah air yang sudah banyak disuburi oleh orang orang salih terdahulu. Jalan yang aku susuri tidak begitu mulus, banyak lubang dengan bebatuan kecil. Angkutan umum yang aku tumpangi bergoyang goyang. Aku fokus pada pemandangan di luar jendela. Petang itu awan semakin gelap, tokok toko pinggir jalan bergegas untuk menutup tralis. Dengan lirih aku gerakkan bibirku, 'ya Allah..ya Allah.. Hasbunallah wa nikmal wakil, nikmal maula wa nikmannashir'. Air mata menggumpal di pelupuk mata tertahan oleh rasa gengsi dilihat penumpang angkot lain. Aku mengangkat kepala ke atas langit langit angkot agar air matanya kembali masuk, 'buat nanti saja aku keluarkan lagi di rumah', bercandaku dalam hati. Aku menanrik nafas dalam dalam dan menghembuskan perla...