Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Perjalanan untuk Pilih Bicara

Gambar
Aku berada di ruang tengah rumah. Duduk di kursi kayu setengah kokoh. Jika begerak sedikit membenarkan posisi duduk terdengar "krekeeek". Rupanya kursi kayu minta diistirahatkan. Tapi entahlah, sang pemilik memaksakan untuk tetap digunakan. Ini pukul dua siang. Kulihat ke arah jendela, masih sama. Pohon belimbing tersipu angin. Daun-daunnya bergerak syahdu. Aku mengenduskan napas. Punggungku semakin bersandar pada kursi kayu kesayangan Ayah. Aku menatap pas foto yang berada 100 derajat dari sebelah kanan posisi dudukku. Ada Ibu, Ayah, dan kedua saudara perempuanku. Aku tersenyum mengikuti bentuk bibirku yang merakah di foto yang terpampang. "Ayah.." panggilku lirih dalam hati. "Tok..tok..tok.." dengan cepat aku mengalihkan pandangan kembali ke jendela. Tepat sekali, aku sangat menunggunya datang. Aku melambaikan tangan ke arahnya, menutup buku yang kubaca dua jam lamanya, dan bergegas ke luar rumah menemuinya. "Hai, Va. Sekarang ...

Menjadi Muslimah Produktif Kesayangan Allah

Gambar
Sebelumnya aku mau sedikit cerita kenapa aku suka posting tentang Teh Farah Qoonita atau bisa dibilang syndrom banget gitu, ya? In syaa Allah gak menutup kecintaan aku pada Allah kok hehehe. Malah, karena Teh Qoonit aku jadi semakin ingat Allah lewat postingan postingan dia, lewat buku 'Seni Tinggal di Bumi'. Aku melihat dia seperti aku melihat diriku yang aku impikan; selalu bergairah dengan ilmu Islam, menginspirasi, dan kontributif di media sosial. Masalah seberapa banyak followers, aku enggak peduli sama sekali. Banyak yang like atau komentar kekaguman atas sebuah karya bukan jadi tujuan. Soalnya aku malu, sih kalau hanya berharap banyak yang like atau komentar. Karena, Umar bin Khattab yang sudah punya brand pemberani, bahkan orang-orang mendengar namanya saja ketakutan, kegagahannya yang ia dedikasikan untuk Islam. Keren parah, disegenai karena keganasannya membela Islam.Apakah Umar pernah memikirkan berapa followers yang ia punya? Apakah ia pernah mengumpulkan pu...

Selamat Buka Puasa di Surga

Gambar
Siang itu aku sedang bersantai di atas spring bed ukuran 90 cm x 120 cm sambil mendengarkan nasyid Snada berjudul Alif Kecil. Mataku tertuju pada  langit  kamar yang bolong membayangkan sosok anak kecil malang yang diceritakan dalam nasyid. Aku Terpejam menikmati lantunan lagu lewat headset putih. Hanya seorang diri di rumah, sedangkan yang lain sibuk dengan aktivitas di luar. Maklum, anak semester akhir kerjanya malam hari, siang harinya masih bisa santai menikmati atap langit atau hanya sekedar berselancar di media sosial. "Ya Allah, tinjukkan jalan-Mu pada si Alif kecil. Agar dia dapat menahan cobaan dan rintangan yang datang menghadang," dengan lirih aku mengikuti lantunan lagu masih dalam mata tertutup. Tak terasa aku tertidur pulas di antara teriknya sinar yang mengetuk pintu jendela kamar dan lantunan syahdu nasyid yang masih berputar. *** "Hiks.. hiks.. hiks" di atas rerentuhan rumah, aku mendengar suara tangisan seorang perempuan. Aku menengok kan...

Kisah Perjalanan Chip dengan Karbon Monoksida dan Nikotin

Gambar
Aku adalah Chip portable dengan ukuran yang sangat kecil dan ringan sehingga mampu dengan mudah diaplikasikan ke dalam bagian tubuh hingga sirkulasi darah. Di luar tubuh terdapat layar yang terhubung denganku sehingga dapat menampakkan kondisi nyata dengan kualitas yang 'tegas' walau sebenarnya ukuran yang kuliput hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron. Suatu hari aku melihat orang yang menyalakan korek untuk membakar benda panjang kecil di bagian ujungnya. Tiba-tiba  Chip  melompat masuk ke dalam rongga mulutnya. Diriku berdesakkan dengan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. Apa ini? Aku pun mulai meluncur mengikuti perjalanan benda-benda asing menyusuri tubuh. Dalam perjalan pertama, aku tahu akan mengarah ke mana dengan benda-benda asing ini. Benar, saja! Ini adalah paru-paru. Aku melihat bercak hitam di area bronkus dan bronkiolus. Semakin dekat, ternyata bercak hitam terlihat sangat banyak. Bagaimana mungkin saluran udara dari trakea ini sangat kotor? ...

Tangan Teknologi Canggih Penghasil Karya Besar

Gambar
Aku mulai suka dengan pembuatan ilustrasi setelah aku dikenalkan oleh adik mentoring Medibang Paint. Awalnya cuma gambar-gambar biasa aja di sketch book atau kertas bekas laprak hehehe. Dan aku sangat menikmati belajar ini. Sangat menikmati. Kenapa? Karena aku ingin produktif menghasilkan karya untuk dakwah di media sosial. Kenapa harus berkarya di media sosial? Aku hanya ingin semakin memperluas kebermanfaatan diri saja. Kata guruku saat di Madrasah, orang  telanjang di pasar mungkin hanya dilihat oleh orang yang ada di sekitarnya saja. Tapi, orang yang telanjang di media sosial cakupan orang yang melihatnya tidak terbatas. Memang agak ekstrim sih, contohnya. Tapi,  seperti itulah nyatanya. Di media sosial, kita gak pernah tau siapa saja yang melihat konten yang kita upload selain following kita. Terlalu bebas dan luas. Setelah belajar membuat beberapa konten, aku sering belajar dari akun akun dakwah yang menciptakan karya ilustrasi. Pertanyaan pertanyaanpun mem...

Aku dan Konten Sahabiah

Gambar
Ramdan jadi waktu yang mengajarkan aku untuk meningkatkan produktivitas diri. Mulai dari mengarang kalimat kalimat pada skripis (eh, tolong ini udah gak usah disebutin, harus cepet diselesain! hahaha), membaca buku-buku soal pengendalian tembakau ('Giant Pack of Lie' dan 'Kata Siapa Rokok Makruh?'), membuat konten soal rokok elektronik, dan mencoba menulis esai untuk lomba. Alhamdulillah jadi penghias hari hari Ramadanku. Selain itu, aku terinspirasi oleh Teh Qoonit, seorang penulis, influencer, dan pembuat konten dakwah kreatif. Maa syaa Allah aku kecipratan nilai positif dari akun Instagramnya sehingga membuat aku benar-benar merasa bangga menjadi pemuda muslim. Mengapa? karena Islam sangat baik, memberikan aturan-aturan kepada manusia tetapi aturan tersebut tidak membatasi untuk berkarya. Malah, dengan Islam, banyak ide ide kreatif bermunculan. Mengapa merasa bangga? Karena dengan Islam lah lahir orang orang yang peduli, mereka tidak hanya memikirkan hidu...