Perjalanan untuk Pilih Bicara
Aku berada di ruang tengah rumah. Duduk di kursi kayu setengah kokoh. Jika begerak sedikit membenarkan posisi duduk terdengar "krekeeek". Rupanya kursi kayu minta diistirahatkan. Tapi entahlah, sang pemilik memaksakan untuk tetap digunakan. Ini pukul dua siang. Kulihat ke arah jendela, masih sama. Pohon belimbing tersipu angin. Daun-daunnya bergerak syahdu. Aku mengenduskan napas. Punggungku semakin bersandar pada kursi kayu kesayangan Ayah. Aku menatap pas foto yang berada 100 derajat dari sebelah kanan posisi dudukku. Ada Ibu, Ayah, dan kedua saudara perempuanku. Aku tersenyum mengikuti bentuk bibirku yang merakah di foto yang terpampang. "Ayah.." panggilku lirih dalam hati. "Tok..tok..tok.." dengan cepat aku mengalihkan pandangan kembali ke jendela. Tepat sekali, aku sangat menunggunya datang. Aku melambaikan tangan ke arahnya, menutup buku yang kubaca dua jam lamanya, dan bergegas ke luar rumah menemuinya. "Hai, Va. Sekarang ...